Seminar “Krisis Budaya Toraja: Antara Tradisi dan Modernitas”

Dalam seminar yang digagas oleh TOPITU ini, ternyata disimpulkan bahwa tidak ada krisis budaya yang terjadi dikalangan orang Toraja. Yang ada adalah perjumpaan budaya Toraja dengan budaya modern.

Sangat disayangkan bahwa sebagian besar orang-orang penting Toraja yang hadir dalam acara ini hanya datang untuk tampil.  Topik yang dibahas tidak menhasilkan suatu agenda yang jelas. Yang ada adalah pembahasan mengenai rambu solo’, yang mana merupakan topik klasik yang sudah tidak perlu dibahas lagi.

Hadir sebagai pembicara adalah Jonathan Para’pak yang lebih menekankan pentingnya pendidikan untuk mendukung pelestarian kebudayaan Toraja.  Sementara itu TR Andi Lolo hanya berbicara seputar rambu solo’.  Salah satu pembicara lain yang juga dari UPH malah lebih banyak berbicara tentang ekonomi.

Jadi dari seminar ini sepertinya terbaca bahwa masyarakat Toraja pada umumnya belum dapat melihat kearah mana budaya Toraja sekarang ini bergerak.

Gagasan Toraja Raya untuk tetap mempersatukan Mamasa, Rongkong, Kalumpang dan daerah2 lain yang dulu sangat dekat dengan Kab. Tana Toraja sekarang, ternyata disambut dingin.  Bisa diprediksi, dalam beberapa puluh tahun kedepan, kontex Toraja akan sangat jauh berbeda dengan Toraja yang ada saat ini.

Seminar yang berlangsung di ATMA JAYA Jakarta ini hanya dihadiri sekitar kurang dari 100 orang2 penting Toraja di Jakarta.  Dari gologan pemuda ternyata sangat sedikit dan bahkan hanya hitungan jari. Sangat disayangkan memang, tapi begitulah. Krisis budaya Toraja ternyata belum disadari oleh bahkan petinggi2 Toraja sendiri.

Mau kemana kita sekarang?

7 responses to “Seminar “Krisis Budaya Toraja: Antara Tradisi dan Modernitas”

  1. Bapak/Ibu dan Sdr/i sang Toraya-an yth,

    Ya seminar, ya cinta kampuang, ya masa depan generasi muda, ya keunggulan daerah (toraya as the one of the world heritage), ya kesadaran diri, ya kelunturan nama Tana Toraja, kesemua itu karena kita-kita juga.

    Putra Topitu, adalah sebuah lembaga yang dirintis oleh enam orang putra derah Tana Toraja awal tahun 2007 dan resmi, secara hukum, pada akhir tahun ini (2008). Langkah awalnya adalah seminar krisis budaya yang baru-baru ini diselenggarakan di Unika Atma Jaya Jakarta. Langkah berikutnya, adalah Conference on Toraja awal tahun depan, jika tidak terhalang oleh suhu politik nasional dan krisis keuangan yang makin menjadi-jadi. Pemakalahnya adalah para pakar penitili dunia tentang Tana Toraja sejal tahun 1940-an hingga sekarang.

    Jadi seminar yang baru ini hanya mengahadirkan Rektor UPH sebagai Keynote Speaker, sedang main speakres-nya adalah Prof. Dr. T.R. Andi Lolo (UNHAS), Prof, Dr. Paulus Tangdilintin (UI dan UPH), Prof. Dr. Roxana Waterson (National Univesity of Singapure = NUS). Memang tidak banyak hal baru yang terangkat di dalam seminar tersebut, tetapi PUTRA TOPITU masih tetap optimis bahwa suatu ketika nanti manusia yang berdarah daging Toraya akan menyadari betapa terlambat dan tertinggalnya kita hanya karena kelalaian sendiri membina kebudayaan warisan kakek/nenek atau pendahulu kita menjadi kebudayaan dunia. Kita selama ini hanya larut dalam hal keberkabungan dan rampanan kapa’. Padahal kebudayaan orang Toraja bukan hanya itu. Itu hanya sisa-sisa kebudayaan masa lalu yang mampu dibina dengan “terpaksa”.

    Tentang generasi muda, memang tidak lagi tertarik kepada kebudayaan asli orang Toraja. Mereka lebih senang hura-hura dengan kualitas hidup yang sangat memprihatinkan dan so’ keasing-asingan. Apakah itu diperoleh di bangku sekolah atau di dalam lingkungan pergaulan hidupnya, yang pasti bahwa mereka jauh lebih tertarik pada nuansa seperti itu. Kenapa begitu, karena kebudayaan orang Toraja “sangat terbuka” dan mudah terkontaminasi kebudayaan lain. Selain itu, para orang tua lebih materialistis (senang hidup mewah) tanpa adanya hasil dalam bentuk uang yang jelas. Mereka lebih senang mengunjungi anaknya di perantauan daripada mendidik anaknya yang masih bersama mereka atau menggaraf sawah/kebun hanya untuk minta uang yang diperuntukkan bagi pesta mati, bayar utang pesta mati, atau pesta rampanan kapak. Memang sangat memprihatinkan !!!!.

    Akibat dari kesemua hal di atas, maka timbulah sikap apatis dan tidak lagi bekerja keras dengan penuh disiplin. Akibat selanjutnya, kualitas didik adak didik dari Tana Toraja sangat memprihatinkan. Tidak lagi sepertui tahun 1980-an ke bawah. Memang kita mau ke mana ???
    Lama-lama semua tanah warisa nenek moyang kita di Tana Toraja habis dijual hanya untuk kepentingan pesta orang mati atau pesta perkawinan. Padahal ada “basse-basse” tanah tentang aluk padang, aluk tongkonan, aluk pare, aluk tananan, dan jenis aluk-aluk lainnya. Saat ini tingal aluk tomate sola aluk rampanan kapak versi anak muda. Maunya yang jadi. Tetapi jangan lupa itu pun adalah kebidayaan orang Toraja masa kini, termasuk kebudayaan bermalas-malas tetapi mau hidup senang. Ohoiii, hebat kan generasi muda orang Toraja saat ini ????

    Pesan kami para pendiri PUTRA TOPITU bagi para Bupati, para guru, para pengelola sekolah, para orang-tua anak-anak, dan para pakar lisan di dalam wilayah “Sang Torayaan” bersatulah menyusun kurikulum pendidikanmu sehingga sepuluh tahun yad nama baik Tana Toraja bisa kembali seperti dulu kalah. Tana Toraja hanya bisa dibangun baik jika bertitik tolak dari duia pendidikan. Daerah persawahan sudah mentok, tata kelola tanah tidak efisien, dan strategi pembangun daerah sangat buruk sehingga hasilnya pun tidak bisa terlalu diharap.

    Di UKI Toraja sudah ada lembaga TORJALOGI yang diketuai oleh Prof. Dr. T.R. Andi Lolo. Mungkin lembaga ini dapat dijadikan cikal-bakal kebangkitan keilmua anak-anak Toraja. Jadi tegakkanlah keunggulan kurikulum dengan basis muatan lokal sehingga generasi muda dari tempat lain dapat meimbah ilmu di Tana Toraja. Ibaratnya, kota Bandung, kota Jogya, atau DKI. Harus dimulai dari pembekalan guru yang profesional dengan gaji dan tunjangan yang memadai. Sandralah para pakar orang Toraja jika berlibur untuk memberikan pandangan hidup (dan kuliah) yang dibutuhkan daerah. Para pakarmu Tana Toraja ada banyak sekali yang sukses di rantau orang. Mereka punya posisi dan nama yang tersohor. Hanya pengelolamu yang cukup egois sehingga nasibmu daerahku lantang lantung. Sayang seribu sayang, memang . . . . . !!!!

    Akhirnya, selamat bagi kedua bupati semoga pandanganmu ke depan bisa membawa harum nama baik Tana Toraja kembali di masa-masa yang akan datang. Selamat bertugas !!!!

    frans bararuallo, Dr. Drs. MM

  2. Terima kasih untuk mereka yang telah berlelah menggagas dan melaksanakan kegiatan seminar ini.
    Apa yang disampaikan para pembicara seminar memang sangat berbobor, namun sangat disayangkan para peserta ternyata banyak yang lupa diri. Ketika diberi kesempatan bertanya, malah seolah-olah memaparkan “makalah” mereka sendiri. Terlalu bersemangat menyampaikan isi hati, sampai lupa dan merebut kesempatan untuk menggali lebih jauh dari para nara sumber sebenarnya.
    Adalagi yang mengaku orang muda (katanya angkatan 90an), diberi kesempatan bertanya malah berorasi panjang lebar. Ketika diminta mengulangi inti pertanyaan, jawabnya begini: “Maaf, saya sendiri sudah lupa.”. Padahal orang muda tuh.
    Ini kebiasaan buruk orang toraja dalam rapat atau pertemuan, tidak fokus.
    Moderator yg semestinya bisa menjadi pengendali alur diskusi juga tidak berbuat banyak.
    Diskusi mengalir tidak jelas.
    Tapi bagaimanapun, satu langkah awal yang sangat baik untuk membangun kembali kesadaran dan kecintan pada budaya toraja. Terima kasih.

  3. gw jujur aja ga’ suku ama rambu solo’ karena kegitan itu cuma menumbuhkan “lintah darat” dalam kehidupan masyarakat toraja.khusus buat pertemuan yang sering diadakan itu ga’ ada artinya kalau cuman membahas kepentingan golongan.uadh banyak konsep yang dibicarakan.TAPI BUTIKKAN DONG.JGN CUMAN BICARA.

  4. Saya sependapat untuk mengatakan bahwa generasi muda Toraja dari tahun 1980..an sampai saat ini adalah generasi yang kurang menyadari bahkan sangat kurang ….dalam memahami arti budaya dan kehidupan masyarakat asal-usulnya (Toraja)… yang harus tetap dilestarikan, dikenal orang luar agar dapat dapat memberikan dampak positif bagi dirinya sendiri dan pada umumnya orang Toraja sendiri.
    Saya ingin berbagi rasa dan pemikiran dengan para Petinggi, orang2 Penting dan para Pakar dalam bidangnya…. yang berasal dari Tana Toraja, sebagai berikut :
    1. Mencari solusi untuk bisa merubah budaya malas generasi muda di Tana Toraja menjadi generasi pekerja keras yang kreatif dan bermartabat.
    usul saya agar dibuatkan Peraturan Daerah (PERDA) yang tegas (harus disesuaikan dgn kondisi masyarkatnya) sebagai dasar pijakan yang legal untuk mewajibkan masyarakatnya berpolah hidup sebagai pekerja keras dan kreatif. Perda ini harus disosialisasikan ke seluruh lapisan masyarakat.
    2. Mewajibkan anak2 untuk bersekolah karena itu di Toraja harus didirikan banyak gedung sekolah dengan perangkat sarana dan prasarana yg lengkap dan guru pendidik yang berkualitas.
    Saya sangat apresiatif kalau sekolah kejuruan mendapat porsi utama untuk manyarakat di Toraja. Mengapa …???..karena ini bisa merangsang daya kreatifitas generasi muda untuk mencipta dan menjadi pekerja keras yang diharapkan kelak bisa menunjang ekonomi keluarganya …
    3. Menghimbau masyarakat Toraja yang yang sudah berhasil dan sukses untuk turut serta berpartisipasi mengentaskan kemiskinan di Tana Toraja (misalnya dengan berinvestasi usaha di Toraja yang bisa menampung kreatifitas generasi muda dari hasil didikan sekolah kejuruan.
    4. Para Petinggi dan Pakar harus punya wawasan kedepan dan kemauan untuk bisa mewujudkan Tana Toraja menjadi pusat pendidikan di Sulawesi bahkan sampai tingkat Nasional dan international.
    5. Sebagai orang yg beriman … masyarakat Toraja harus rajin berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa …memohon dibukakan pintu rahmatNya untuk semua usaha masyarakat kita yang ingin bangkit dari keterpurukan ruang lingkup kehidupan.
    Inilah impian saya untuk masyarakat, budaya dan kampung halaman kita Tana Toraja + Toraja Utara.

    Salam,

    Drs.Christian R.Tappi Tandiayu

  5. Masyarakat adat rongkong telah berada di wilayah tana luwu, sejak abat ketiga, jauh sebelum hadirnya zaman sawerigading di tana luwu.Komunitas masyarakat adat rongkong, pada abat ketiga, awalnya berdomisili di wilayah dataran tinggi, atau pegunungan berana, tepatnya di kaki puang rongkong tana masakke to tana lalong. Rongkong (Negeri Rongkong).Rongkong asal kata dari Marongko yang artinya rahmat atau anugrah tuhan yang maha Esa. Salah satu wilayah kecamatan yang berada di kabupaten Luwu Utara yang letaknya berada di tengah-tengah jantung Sulawesi ± 57 Km sebelah Barat Kota Masamba ibu kota Kabupaten Luwu Utara dengan ketinggian ± 800-1500 M (dari permukaan laut) dengan suhu 7º -17ºC.Masyarakat Adat Rongkong terkenal dengan budaya yang sangat kental, kesenian beraneka ragam meskipun saat ini sebahagian telah mendekati kepunahan.Tana leluhur komunitas masyarakat adat rongkong, hingga kini masih mempertahankan adat dan budaya leluhur mereka, dengan tetap mempertahankan gelar tomakaka, bagi tau atau orang yang dituakan.Tomakaka adalah cikal bakal marang cina torongkonge, sebutan gelar tau toa, sementara marang cina torongkonge, adalah orang yang dipertuan agungkan atau raja.Sebutan rongkong, adalah asal kata marongko, dimana makna dari marongko, adalah rahmat atau anugerah, hal ini terlihat dari kekayaan sumber daya alam yang dimiliki masyarakat rongkong.Kebesaran nama rongkong, dapat kita lihat dari banyaknya situs purbakala serta benda-benda peninggalan sejarah leluhur masyarakat adat rongkong, yang tersebar di tana luwu, salah satunya adalah batu situs burbakala dan gua kerajaan peninggalan leluhur tau rongkong yang berada di pegunungan barana atau kaki puang rongkong, di wilayah kabupaten luwu utara.Didukung dengan kekayaan alam yang dimiliki tana luwu, serta luas wilayah dataran rendah maupun pegunungan, maka tana luwu, atau lebih dikenal dengan bumi sawerigading, tentunya juga memiliki beragam tradisi adat dan budaya, termasuk tradisi budaya adat rongkong.Rongkong yang memiliki kawasan hutan yang membentang laus,masi utuh ditumbuhi pepohonan yang beraneka ragam salah satunya adalah pohon agatis dalm populasi yang sangat banyak dan di manfaatkan sebagai sumber ekonomi penduduk setempat sampai sekarang ini dan yang sangat menarik karna kawasan hutan ini di huni berbagai jenis satwa liar salah satunya adalah Anuang.
    Walaupun tana luwu, atau bumi sawerigading, telah dimekarkan menjadi tiga kabupaten plus satu kota, yaitu, kabupaten luwu, dengan pusat pemerintahannya bernama belopa, kabupaten luwu utara, pusat pemerintahanya masamba, dan kabupaten luwu timur, pusat pemerintahanya berada di malili, serta kota palopo. Namun masyarakat adat rongkong yang tersebar di tana luwu, masih tetap mempertahankan tradisi adat leluhur mereka. Jadi salah besar jika rongkong dikatakan sama dengan Toraja atau bagian dari tana toraja……na saba’ Umba’ dingei…sipo apa…?????????????

  6. Sang Torayan yt,
    Apapun usaha etnis toraya menyatukan visi dan misinya membangun kembali kesatuan turunan dan budaya, tidak ada yang “boleh” disalahkan oleh siapapun.

    Bahwa ada yang mengatakan hal seperti ini,… ga’ suku ama rambu solo’ karena kegitan itu cuma menumbuhkan “lintah darat” dalam kehidupan masyarakat toraja”, itu wajar-wajar saja karena kejadian tertentu di wilayah adat tertentu. Tetapi itu bukanlah wakil menyeluruh dari pelaksanaan rambu solo’ atau pesta keberkabungan di Tana Toraja.

    Bahwa ada pihak yang menyatakan bahwa,”Jadi salah besar jika rongkong dikatakan sama dengan Toraja atau bagian dari tana toraja”, itu juga tidak salah, karena itu hanya persepsi sebagian masyarakat Rongkong. Bukan suatu kepastian. Dalam perang Untulak Buntunna Bone di Tana Toraja, ternyata ada wakil Rongkong dalam kelompok “To Pada Tindo”. Sayang tidak akan ada diantara kita sekarang yang dapat memberi kepastian situasi abad-3 atau abad-14 dst tentang hubungan darah-daging masyarakat Rongkong dengan masyarakat Tana Toraja (Makale Rantepao). Tetapi bahwa masyarakat Rongkong termasuk Etnis Toraya, itu hal yang pasti menurut para antropolog dan sosiolog dunia.

    Mimpi indah Bp. Christian R.Tappi Tandiayu, itu memang sangat “ayu” dan merupakan impian indah seluruh masyarakat dan Etnis Toraya. Hanya saja terjadi secara spontan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, itu juga tidak mungkin. Harus dimulai dari tindakan nyata dalam skala yang kecil-kecil. Akkumulasi tindakan nyata dalam skala kecil ini dapat merupakan gebrakan raksasa dunia, jika ada kemauan baik. Oleh sebab itu lembaga budaya “Putra Toitu” merencanakan melaksanakan Konferensi Budaya Toraya di Tana Toraja (Rantepao) tgl 27 – 30 Juli 2009. Ketua pelaksana (sementara) adalah Prof. Dr. T. R. Andilolo, ketua Torajalogi dari UKI Makale. Forum ini akan dihadiri oleh sejumlah mantan peneliti di Tana Toraja dari luar negeri sejak 1950-an hingga 2003. Harap kehadirannya di Hotel Misliana, To’rompon (Pao). Gratis !!!

    Sang Torayaan yth,
    Semoga semua impian kita dapat dimengerti dan didalami oleh generasi muda di dalam etnis toraya sehingga tidak berhenti hanya sampai di sini. Mungkin saja kita-kita ini adalah angkatan 1980-an, tetapi ada kemauan nyata untuk menempatkan diri dalam forum diskusi dan interaksi di antara kita tentang budaya kita sendiri tanpa memandang kebangsawanan atau pembedaan semacam lainnya.Itu adalah modal dasar yang sudah terbentuk.

    Ternyata budaya toraya itu memiliki daya jual sangat besar jika ditata dengan baik. Selama ini yang diuntungkan hanyalah perhotelan dan biro perjalanan. Masyarakat pelaksana dan pemeliharanya selalu jadi umpannya. Sayang, bukan ???
    Harus saling menguntungkan dan terfokus pada pembenahan budaya sebagai kekayaan bersama. Salah satunya adalah menulis lebih banyak buku dan rajin meneliti kebenaran sejarah masa lalu. Siapa pun boleh melakukannya. Sayangnya, ada aliran (ajaran kristen) yang dapat dipastikan akan menjadi korban utamanya jika dilakukan “klarifikasi”.

    Ok, padamotoo, salama’
    frs

  7. walau bagaimanapun adat istiada dan kebudayaan tanah toraja harus kita kembangkan karena ini adalah salah satu potensi dan kekayaan tanah toraja yang terkenal diluar, meskipun begitu sebagai masyarakat toraja gak bole fanatik untuk menolak masuknya budaya luar meski demikian kita harus selektif dalam menerima budaya asing demi menjaga keaslian dan eksistensi budaya kita.

Comments are closed.