Malam Natal 2012

Hampir semua orang toraja yg merantau diluar toraja – tak terkecuali yang diluar negeri – selalu ingin kembali merayakan natal bersama keluarga di kampung.

Keinginan ini masih sangat kuat utamanya dikalangan orang toraja rantau yang dulunya dibesarkan di Toraja.

NATAL.Saat dimana semua orang bersukacita atas kelahiran Sang Juru Selamat.

Namun perayaan natal di Toraja sudah agak bergeser maknanya seiring dengan bergeraknya waktu. Salah satu contoh adalah ditinggalkannya barattung dan digantikan oleh petasan dan kembang api.

Pergeseran makna itu bukan hanya barattung ke petasan, tetapi lebih kepada penghayatan akan makna natal itu sendiri.

NATAL sekarang lebih identik dengan kemewahan materi dibanding dengan kemewahan hati. Saat menjelang natal, Toraja akan kebanjiran dengan duit. ATM akan selalu antri dan mobil2 mewah menghiasi jalanan desa.

Materi sebagai bukti keberhasilan di rantau iti penting tetapi keberjasilan spiritual
seharusnya menjadi lebih utama.

Kedekatan pribadi dengan Yang Kuasa seharusnya menjadi prioritas utama – meski agak takkan terukur dengan alat ukur manapun.

Sehari menjelang natal, saya menghabiskan beberapa jam untuk mengenang kehidupan Ida van de Loosdrecht. Istri misionaris GZB , yang dibunuh di Toraja pada tahun 1917.

Bagaimana Ida menjalani kehidupan – setelah suaminya dibunuh, kemudian orang tuanya meninggal, dan juga kematian anak sulung nya saat di Solo – adalah suatu teladan iman
yang sangat berharga bagi saya.

Saya kira Ida adalah pribadi yg sangat penuh dengan hikmat dan kasih Tuhan. Dia sanggup bertahan salam kondisi seperti itu, selama 35 tahun sisa hidupnya.

Saya pribadi sangat salut dengan iman yg dimiliki Ida van de Loosdrecht.

Selamat merayakan natal 2012.
 

.